Red War Think with No Brain

Teori Evolusi | Oktober 16, 2006

Adam manusia pertama dibumi ini???

Saya sering bertanya pada temen2 tentang yg satu ini. Bukan mo nguji ilmu seseorang, saya cm butuh jawaban agar bisa memuaskan rasa dahaga akan keingintahuan saya aja. Semoga dengan pengetahuan itu saya bisa lebih memahami tanda2 kebesaran Yang Maha Besar dan semoga pemahaman saya selalu dalam keridhoan_Nya.

Klo emang adam manusia pertama koq manusia bs berbeda2?? ada yg hitam, putih, kuning, atau coklat.

Evolusi??? atau karna Sang Pencipta memang menciptakan manusia itu bersuku2 yg berarti Adam bukan manusia pertama???

Mohon pencerahan dari teman2…..

Edit:
Adam itu manusia pertama? betul Adam adalah manusia pertama yg mendapat Wahyu, karna Adam adalah manusia pertama yg mampu menggunakan logikanya.

Jadi sebelum Adam sudah ada manusia? ya tentu saja ada, itu yg kita kenal dgn manusia purba, manusia yg masih menggunaka insting untuk bertahan hidup, mereka belum mampu menggunakan logikanya

Buktinya apa? buktinya, hampir diseluruh bumi ini banyak ditemukan fosil2 manusia purba yg masih primitif. itu salah satu buktinya.

Jadi Tuhan gak cm nyiptain Adam ma Hawa aja? kan dalam kitab suci disebutkan klo tuhan itu menciptakan manusia itu bersuku2, berbeda2 agar manusia bisa menjalain persaudaraan.

Tp kan dikitab suci jg disebutkan klo Adam itu manusia pertama yg diciptakan, Gimana tuh?? Adam itu manusia pertama yg di anugerahi Tuhan dengan wahyu-Nya. karna pola pikir Adam sudah tdk primitif lagi, maka Tuhan pun memberi wahyu agar ada aturan2 dalam kehidupan di masa itu, seiring dgn mulai digunakannya logika….

*gw cm manggut2 dapet penjelasan ini, tp make sense jg*
itu kurang lebih obrolan iseng gw ma atasan gw ditempat kerja, dia sempet kasih firman2 Tuhan, tp karna ingetan gw parah, gw cm tulis artinya secara umum yg masih gw inget :P…


Ditulis dalam Agama

27 Komentar »

  1. *modul kiai paling bener sendiri….. ok*

    Begini… setelah menciptakan adam, anak cucunya tuh lambat banget berkembang biak, meski rajin ngesex (tentu saja hubungan inses) tapi tiap 9 bulan maksimal cuma 1 anak dari satu perempuan. Dan karena inses, banyak produk yang cacat, atau kelewat bego, atau terlalu bermasalah, pokoknya tidak mungkin bertahan dalam arena survival of the fittest yang bernama bumi ini. Proses kolonisasi manusia di bumi terancam gagal.

    Karena itulah, secara diam-diam, beliau (tuhan) menciptakan lagi manusia-manusia yang lebih layak di berbagai belahan dunia. Dan seperti yang kita tahu, manusia dibuat dari tanah, dan tanah di berbagai belahan bumi ini punya komposisi dan sifat yang beraneka ragam. Otomatis manusia yang tercipta kemudian juga berbeda-beda. Ada yang kuning, hidam, pesek, keriting, berpenis panjang, sipit dan lain sebagainya.

    Jadi Adam memang manusia pertama. Harus!

    Dan tentang Evolusi, itu sama sekali tidak ada, itu adalah teori jahat produk orang kafiiir dan sesaaat yang laknaaat. Manusia itu diciptakan kun kun fayakun!…. jreng. Gitu.

    Komentar oleh wadehel — Oktober 17, 2006 @ 4:07 pm

  2. ini suatu penjelasan yg ogut pernah dapet:
    Pentateukh pertama Musa — dalam Alkitab/Bible disebut juga kitab Kejadian/Genesis (ada 5 pentateukh yg dibikin Musa, kelimanya dalam Alkitab/Bibel menjadi 5 kitab pertama dalam Perjanjian Lama: Kejadian/Genesis, Keluaran/Exodus, Ulangan/Deuteronomy, Imamat/Leviticus, Bilangan/Numbers) — menyebut Adam memang manusia pertama dan Hawa adalah bininya. Dari merekalah lalu lahir Qabil (Kain) dan Habil (Habel). Habil dibunuh Qabil. Selain kedua anak ini, lahir pula anak² lain dari Adam. Dalam Kejadian disebutkan keturunan² lelaki Adam (dalam tradisi pada waktu itu, silsilah memang hanya menyebut nama anak laki², anak perempuan tidak kecuali mempunyai riwayat khusus yang memang penting untuk dibagikan). Anak² Adam itu saling kawin mengawini. Merekalah menjadi penduduk bumi.

    Namun manusia yang ada sekarang ini adalah keturunan Nuh. Sebab bumi pernah disapu habis oleh banjir besar. Semua manusia dan hewan yang berada di luar bahtera Nuh musnah kabeh. Nuh memiliki 3 anak laki²: Set, Ham dan Yafet. Ketiga orang inilah yang menjadi nenek moyang ras induk di bumi: Asia, Eropa dan Afrika. Ketiganya memang memiliki warna kulit dan bentuk tubuh yang berbeda².

    Nah soal perbedaan perawakan ini bisa dijelaskan dengan biologi. Intinya perkawinan akan menghasilkan variasi² persilangan. Seperti misal, coba amati saja kalao ente punya binatang peliharaan kawin. Belom tentu si anak bakal mirip ama induk kan. Ini udah soal gen, DNA, atawa sejenis itulah. Nah Nuh, Sem, Ham, Yafet pun begitu. Perawakan mereka merupakan variasi dari orang tua mereka masing² yang pada akhirnya bermuara ke Adam.

    Adaptasi mahluk hidup terhadap lingkungannya juga berpengaruh pada perawakan. Di sini mungkin teori Bismarck berlaku. Ogut sendiri kurang mempercayai teori evolusi Darwinian yang mengatakan manusia adalah evolusi monyet. Toh, sebelum kematiannya, Darwin sendiri mengakui bahwa teorinya itu keblinger dan salah. Tapi ogut percaya teori Darwin dan Bismarck soal evolusi manusia demi beradaptasi dengan lingkungannya (Darwin mengambil sampel soal kura² yang ada di pulau² yg tersebar di kepulauan Galapagos). Coba perhatiin perawakan manusia mulai dari Asia Tengah (Arab) dan semakin ke barat sampai manusia Asia Tenggara. Org Arab punya persamaan fisik dengan orang Pakistan, org Pakistan mirip India, tapi India ngga mirip Arab. India mirip Nepal, Nepal mirip Tibetan, Tibetan mirip Cina, tapi Cina sama sekali beda ama India. Terus sampai Thailand lalu Melayu (termasuk Melayu Indonesia), lalu Australanesia (Aborigin), trus Polinesia (org² Papua, Samudra Pasifik), trus Indian Amerika. Begitu juga dari Asia Tengah, Turki, sampai Eropa. Lalu Asia Tengah, ke Mesir, trus Afrika. Asia Tengah jadi patokan di sini karena asumsi bahwa kisah² manusia pertama (dari Adam sampai Nuh) hikayatnya bermula dari Asia Tengah (Arab, Mesopotamia, Babel, dsk.)

    Waduh, komen ogut bisa jadi postingan tersendiri neh, hehehe .. Kalau masih kurang puas, bole diskusi lagih, bos🙂

    Komentar oleh ogut — Oktober 18, 2006 @ 6:20 am

  3. iya kali…😦

    Komentar oleh passya — Oktober 19, 2006 @ 6:33 am

  4. to:
    wadehel
    Tuhan jg punya matra jg yah??? kun kun fayakun!!!

    ogut
    thank u buat penjelasannya, tp masih lom puas nih…
    perkawinan emang menghasilkan produk yg beda, tp gak mungkin drastis bgt kan?? masa ada yg super duper sangat putih sekali versus yg teramat sangat hitam sekali??? kelanjutan penjelasannya ditunggu

    passya
    gak puas ya….

    Komentar oleh redwar — Oktober 20, 2006 @ 6:04 pm

  5. waks, aku punya tuh temen yang namanya adam… ntar aku tanyain yah..
    hihihi kidding, kalo saya seh berpedoman ama agama saya, yang menyatakan kalo adam ituh manusia pertama!! just that, tapi sekarang setidaknya sudah dapet ilmu dari mas wadehel…. thanks!

    Komentar oleh black_hack — Oktober 21, 2006 @ 9:50 am

  6. Yang penting seh, bukan siapa adam menurut saya, tapi siapa kita…

    Komentar oleh manusiasuper — Oktober 25, 2006 @ 12:02 pm

  7. wadoo baru tau sejarah manusia kek gitu.. btw ogut tau dr referensi mana? boleh yak minta referensinya

    klo menurut manusiasuper, sapa kita yah kita manusia *halah…*

    Komentar oleh goeve — Oktober 30, 2006 @ 8:37 am

  8. black_hack bego niyyy,, masa nanyanya ama adam keturunan ke brapa juta gitu……

    btw, ogut gak isa jelain DNA nya nih,, kurang lengkap atuh,,
    kesannya jadi tebak-tebakan gitu looooh,,,
    lagian kesannya si ogut cuma ambil dari agama islam yaa,, gitu dhee,,
    harusnya lebih universal lagi,,
    juga kemiripan itu,, gak aaah,, kurang setuju akuw,,

    ogut,, postingan di kaji ulang lagi plz,,
    (diminta dengan rendah hati loooh)

    Komentar oleh PsYwar_VicTiM — November 1, 2006 @ 8:10 am

  9. kalo menurut gwe sie, mungkin pas adam spermanya masi macem-macem jenisnya, makanya yg lahir jg macem2..
    sekian, makasieee,,,,
    wassalam bwat wadehel

    Komentar oleh tasman — November 1, 2006 @ 8:19 am

  10. evolusi sudah diterima sebagai fakta, dan penjelasan serta mekanisme evolusi sudah dpt diterangkan oleh genetika dan hukum pewarisan sifat.

    lalu, mau dikemanain agama ? nggak tahu. mungkin kita perlu menafsirkan ulang kitab suci.

    Komentar oleh fertobhades — November 2, 2006 @ 3:02 pm

  11. http://www.toilet-kecil.tk

    kalo menurut gw sih apa yang dikatakan kitab suci cm sebuah pendekatan manusia jaman dulu ttg proses alam….

    atau setidak2nya itu cuma cara Tuhan ngajarin manusia jaman dulu proses penciptaan….

    intinya, semua yang ada di kitab2 suci mengenai penciptaan itu cuma sekedar perumpamaan dari TUhan…

    kan susah juga kali kalo manusia zaman dulu udah harus diajari ttg teori evolusi… kosakata macam gen, seleksi alam, dna, bla bla bla.. aja mereka blom ada,,, susah lah,, mending dkasih aja dulu perumpamaan…

    gitu ga sih… taulah…

    Komentar oleh Lawrance — Desember 17, 2006 @ 4:41 am

  12. komentar saya sual aneka jenisnya manusia:
    Qabil menginginkan calon istri Habil yg lebih cantik daripada calon istri dia sendiri. Nah, dari kata kurang cantik inilah mungkin maksudnya adalah tu orang negro ato gimana gitu😀

    So, wajar jika manusia sekarang beraneka rupa dan macam.

    Komentar oleh sandal — Januari 26, 2007 @ 8:03 am

  13. Bismillahirahmanirrahim,
    Asal Usul manusia ada beberapa macam.
    1. Manusia pertama, dari tanah/sari pati tanah : Nabi Adam AS
    2. Manusia tanpa ibu : Hawa, tercipta dari tulang rusuk adam.
    3. Manusia tanpa ayah : Isa bin Maryam, atau nabi Isa AS
    4. Manusia dengan ayah dan ibu : manusia pada umumnya, seperti kita semua.
    Tapi manusia tanpa ibu mungkin Insya Allah akan muncul lagi di masa depan, yaitu manusia hasil klonning. hanya saja teknologi klonning yang sekarang “konon” sudah dikuasai manusia, hasil klonningnya sama persis dengan yang di klonning.
    Semua serba mungkin. Dan itu semua dapat terjadi atas kehendak Allah azza wa jalla. Wallahu a’lam.

    Komentar oleh who cares — Februari 1, 2007 @ 3:30 am

  14. setan!!!!

    Komentar oleh ance — Maret 11, 2007 @ 5:15 am

  15. manchaster utd dikalahkan 2-0 oleh persegi bali-fc
    pada laga pertandingan jum’at lalu di stadion old trafold

    Komentar oleh ance — Maret 11, 2007 @ 5:26 am

  16. dodol garut Rp. 5000,00
    pecel lele Rp. 7000,00
    es teler Rp. 50.000,00
    es bubur kacang merah Rp. 70.000,00
    dipilih-dipilih!!!!!!

    Komentar oleh ance — Maret 11, 2007 @ 5:30 am

  17. Evolusi Alam Semesta

    Alam diciptakan Allah dalam enam masa (Q.S. 41:9-12), dua masa untuk menciptakan langit sejak berbentuk dukhan (campuran debu dan gas), dua masa untuk menciptakan bumi, dan dua masa (empat masa sejak penciptaan bumi) untuk memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi penghuninya. Ukuran lamanya masa (“hari”, ayyam) tidak dirinci di dalam Al-Qur’an.

    Belum ada penafsiran pasti tentang enam masa itu. Namun, bedasarkan kronologi evolusi alam semesta dengan dipandu isyarat di dalam Al-Qur-an (Q.S. 41:9-12 dan Q.S. 79:27-32) saya menafsirkan enam masa itu adalah enam tahapan proses sejak penciptaan alam sampai hadirnya manusia. Lamanya tiap masa tidak merupakan fokus perhatian.

    Masa pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang) (Q.S. 21:30, langit dan bumi asalnya bersatu) sekitar 12 – 20 milyar tahun lalu. Inilah awal terciptanya materi, energi, dan waktu. “Ledakan” itu pada hakikatnya adalah pengembangan ruang yang dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah kuasa meluaskan langit (Q.S. 51:47). Materi yang mula-mula terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan dasar bintang-bintang generasi pertama. Hasil fusi nuklir antara inti-inti Hidrogen menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat, seperti karbon, oksigen, sampai besi.

    Masa yang ke dua adalah pembentukan bintang-bintang yang terus berlangsung. Dalam bahasa Al-Quran disebut penyempurnaan langit. Dukhan (debu-debu dan gas antarbintang, Q. S. 41:11) pada proses pembentukan bintang akan menggumpal memadat. Bila intinya telah cukup panasnya untuk memantik reaksi fusi nuklir, maka mulailah bintang bersinar. Kelak bila bintang mati dengan ledakan supernova, unsur-unsur berat hasil fusi nuklir akan dilepaskan. Selanjutnya unsur-unsur berat yang terdapat sebagai materi antarbintang bersama dengan hidrogen akan menjadi bahan pembentuk bintang-bintang generasi berikutnya, termasuk planet-planetnya. Di dalam Al-Qur’an penciptaan langit kadang disebut sebelum penciptaan bumi dan kadang disebut sesudahnya karena prosesnya memang berlanjut.

    Itulah dua masa penciptaan langit. Dalam bahasa Al-Qura’an, big bang dan pengembangan alam yang menjadikan galaksi-galaksi tampak makin berjauhan (makin “tinggi” menurut pengamat di bumi) serta proses pembentukan bintang-bintang baru disebutkan sebagai “Dia meninggikan bangunannya (langit) lalu menyempurnakannya” (Q.S. 79:28)

    Masa ke tiga dan ke empat dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya termasuk bumi. Proses pembentukan matahari sekitar 4,6 milyar tahun lalu dan mulai dipancarkannya cahaya dan angin matahari itulah masa ke tiga penciptaan alam semesta. Proto-bumi (‘bayi’ bumi) yang telah terbentuk terus berotasi yang menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi. Itulah yang diungkapkan dengan indah pada ayat lanjutan pada Q.S. 79:29, “dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang.

    Masa pemadatan kulit bumi agar layak bagi hunian makhluk hidup adalah masa ke empat. Bumi yang terbentuk dari debu-debu antarbintang yang dingin mulai menghangat dengan pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan unsur- unsur radioaktif di bawah kulit bumi. Akibat pemanasan endogenik itu materi di bawah kulit bumi menjadi lebur, antara lain muncul sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi dasar lautan dan granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan tersebut. Pemadatan kulit bumi yang menjadi dasar lautan dan daratan itulah yang nampaknya dimaksudkan “penghamparan bumi” pada Q.S. 79:30, “Dan bumi sesudah itu (sesudah penciptaan langit) dihamparkan-Nya.”

    Menurut analisis astronomis, pada masa awal umur tata surya gumpalan-gumpalan sisa pembentukan tata surya yang tidak menjadi planet masih sangat banyak bertebaran. Salah satu gumpalan raksasa, 1/9 massa bumi, menabrak bumi menyebabkan lontaran materi yang kini menjadi bulan. Akibat tabrakan itu sumbu rotasi bumi menjadi miring 23,5 derajat dan atmosfer bumi lenyap. Atmosfer yang ada kini sebagian dihasilkan oleh proses-proses di bumi sendiri, sebagian lainnya berasal dari pecahan komet atau asteroid yang menumbuk bumi. Komet yang komposisi terbesarnya adalah es air (20% massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi bumi karena rasio Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan rasio D/H pada air di bumi, sekitar 0.0002. Hadirnya air dan atmosfer di bumi sebagai prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam.

    Pemanasan matahari menimbulkan fenomena cuaca di bumi: awan dan halilintar. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya gas metan (CH4) dan amonia (NH3) serta sama sekali tidak mengandung oksigen bebas dengan bantuan energi listrik dari halilintar diduga menjadi awal kelahiran senyawa organik. Senyawa organik yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang hangat sekitar 3,5 milyar tahun lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah ditemukan. Di dalam Al-Qur’an Q.S. 21:30 memang disebutkan semua makhluk hidup berasal dari air.

    Lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan merupakan masa ke enam dalam proses penciptaan alam. Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar 2 milyar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ke enam itu pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut.

    Tersedianya air, oksigen, tumbuhan, dan kelak hewan-hewan pada masa ke lima dan ke enam itulah yang agaknya dimaksudkan Allah memberkahi bumi dan menyediakan makanan bagi penghuninya (Q.S. 41:10). Di dalam Q.S. 79:31-33 hal ini diungkapkan sebagai penutup kronologis enam masa penciptaan, “Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu”.
    Evolusi Kehidupan

    Pemikiran tentang adanya evolusi kehidupan didasarkan pada temuan adanya kemiripan antarspesies makhluk hidup. Perbedaan yang sifatnya gradual sangat mungkin disebabkan oleh seleksi alam. Alasannya, hanya keturunan yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya yang akan mampu bertahan. Walaupun demikian, generasi yang telah beradaptasi dengan segala perubahan fisiknya tetap membawa sifat-sifat pokok dari induknya.

    Walaupun diakui masih banyak hal yang sifatnya spekulatif, telah disusun suatu silsilah evolusi yang berawal dari sejenis bakteri yang bersel satu yang hidup sekitar 3,5 milyar tahun lalu. Dari jenis bakteri lahir generasi ganggang yang masih hidup di air. Ganggang hijau sekitar 1 – 2 milyar tahun lalu melahirkan generasi tumbuhan darat. Dari jalur ganggang hijau, sekitar 630 juta tahun lalu, juga lahir generasi hewan tak bertulang belakang.

    Pada jalur yang sama dengan kelahiran Echinodermata (a.l. bintang laut) muncul generasi ikan sekitar 500 juta tahun lalu. Jenis ikan osteolepiform yang siripnya mempunyai tulang pada sekitar 400 juta tahun kemudian melahirkan generasi hewan berkaki empat, amfibi dan reptil, termasuk dinosaurus. Kelak dari keluarga dinosaurus pada masa Jurassic (208 – 144 juta tahun lalu) lahir generasi burung.

    Jenis reptil mirip mamalia (Synapsida) melahirkan generasi mamalia sekitar 200 juta tahun lalu. Salah satu generasi mamalia adalah primata yang arti asalnya adalah “peringkat pertama”. Pada jalur primata, sekitar 34 juta tahun lalu evolusi keluarga kera berekor berpisah dari keluarga hominoid.

    Dalam keluarga hominoid terdapat gibon dan hominid yang mencakup orangutan, gorila, dan simpanse. Hominid berpisah dari gibon sekitar 17 juta tahun lalu. Dalam silsilah evolusi hominid ini makhluk serupa manusia (hominini) dikelompokan pada asal jalur yang sama dengan gorila dan simpanse. Kesamaan genetik antara manusia dengan gorila dan simpanse sangat besar, masing-masing 98,6 % dan 98,8 %, sehingga diduga berasal dari satu jalur evolusi yang mulai berpisah sekitar 5 juta tahun lalu.

    Penempatan manusia pada silsilah evolusi seperti itulah yang memicu penolakan pada teori evolusi. Dengan menggunakan dalil naqli dari ayat-ayat Al-Quran, sebenarnya masalah ini mudah diselesaikan tanpa penolakan secara apriori teori yang mencoba menelusur evolusi kehidupan. Menurut saya, teori evolusi tidak bertentangan dengan akidah bila disertai keyakinan bahwa proses itu terjadi menurut sunatullah, bukan proses kebetulan yang meniadakan peran Allah sebagai Rabbul alamin (pencipta dan pemelihara alam).
    Eksistensi Manusia

    Dalam keyakinan Islam, manusia diciptakan secara khusus untuk menjadi khalifah di bumi (Q.S. 2:29). Proses penciptaan Adam yang berbeda dengan makhluk lainnya disebutkan di dalam Q.S. 3:59 (penciptaannya serupa Nabi Isa dengan ‘kun fayakun’ – ‘jadilah, maka jadilah’) dan Q.S. 32:7-8 (Adam dari tanah, keturunannya dari nuthfah). Kedua ayat itu menunjukkan bahwa Adam tidak diciptakan dari proses biologis perkawinan makhluk lainnya.

    Menurut kajian paleoantropologis, setidaknya ada sembilan jenis makhluk serupa manusia: Australopithecus (A.) aferensis, A. africanus, Paranthropus (P.) aethiopicus, P. robustus, P. boisei, Homo (H.) habilis kecil, H. habilis besar, H. erektus, dan H. sapiens. Homo habilis mahir menggunakan alat-alat batu. Homo erektus (manusia purba) sudah mengenal api untuk penghangat dan memasak. Manusia modern yang ada sekarang dikelompokkan sebagai Homo sapiens.

    Ada beberapa hipotesis yang berusaha menjelaskan evolusi mereka. Namun semuanya tidak ada kepastian dari jalur mana lahirnya Homo erektus. Yang telah disepakati hanyalah Homo sapiens berasal dari Homo erektus. Ada yang berpendapat Homo habilis cenderung tidak bisa digolongkan sebagai Homo (“manusia”), mungkin jenis paranthropus berotak besar. Kemampuan berbicara Homo habilis belum sempurna. Alat-alat batu yang dihasilkannya pun tidak menunjukkan eksperimen kreatif.

    Kalau demikian, yang sudah meyakinkan secara ilmiah sebagai manusia adalah sejak generasi Homo erektus. Ukuran otak yang besar memberikan indikasi kemampuan berpikir yang lebih kuat. Kemampuan berbicara dan berkomunikasi pun sudah cukup maju. Interaksi sosial mulai tumbuh dan makin kompleks. Kehadirannya berdampak pada berbagai spesies. Binatang buas yang mengancam manusia mungkin termasuk yang diburu demi keselamatan masyarakatnya. Punahnya kucing purba yang buas yang terjadi pada masa Homo erektus diduga berkaitan dengan ulah mereka, bukan karena faktor alam.

    Mungkinkah Homo erektus ini yang sudah tersebar dari Afrika, Jawa, sampai China adalah anak cucu Adam yang sulit ditelusur pada silsilah evolusi karena diciptakan Allah secara khusus? Wallahu ‘alam, walaupun kita bisa menduganya ke arah itu.

    Yang jelas, anak cucu Adam pun berevolusi. Adanya berbagai ras manusia dengan warna kulit, bentuk dan warna rambut, serta postur tubuh yang berbeda-beda menunjukkan adanya evolusi manusia. Adaptasi terhadap lingkungan tempat tinggalnya yang berbeda-beda dalam jangka waktu sangat panjang menghasilkan generasi yang beraneka ragam.

    Teori pertama menyatakan manusia purba yang telah menyebar ke berbagai wilayah terus berevolusi menurunkan generasi manusia modern. Tetapi menurut teori monogenesis, dari penelusuran perbedaan genetik dan bukti arkeologi, diduga manusia purba (homo erektus) yang sudah tersebar sampai ke China, Jawa, dan Eropa punah. Semakin besar kesamaan genetiknya, diduga berasal dari alur evolusi yang sejalan.

    Manusia modern yang kini ada berasal dari sisa manusia purba di Afrika sekitar 100.000 tahun lalu. Manusia di Asia timur dan Pasifik mempunyai kesamaan genetik yang berarti berasal dari alur evolusi yang sama. Secara genetik, sedikit berbeda dengan “induknya” di Afrika dan generasi dari alur yang menuju Eropa.
    History of Man
    SPECIES TIME PERIOD
    Ardipithicus ramidus 5 to 4 million years ago
    Australopithecus anamensis 4.2 to 3.9 million years ago
    Australopithecus afarensis 4 to 2.7 million years ago
    Australopithecus africanus 3 to 2 million years ago
    Australopithecus robustus 2.2 to 1.6 million years ago
    Homo habilis 2.2 to 1.6 million years ago
    Homo erectus 2.0 to 0.4 million years ago
    Homo sapiens archaic 400 to 200 thousand years ago
    Homo sapiens neandertalensis 200 to 30 thousand years ago
    Homo sapiens sapiens 200 thousand years ago to present

    The times of existence of the various hominid shown in the chart above are based on dated fossil remains. Each species may have existed earlier and/or later than shown, but fossil proof has not been discovered yet. There is also dispute concerning many overlapping species, for example, the overlap between Homo habilis and Homo erectus. It could well be that the two are continuing examples of the same species. The same dispute exists with Homo erectus, Homo sapiens archaic and homo sapiens sapiens. If all species have been discovered and the lineage of man lies within them, the most probable lineage would include all but the robust Australopithecines and the neandertal.

    The following chronology is abbreviated:

    The earliest fossil hominid, Ardipithecus ramidus, is a recent discovery. It is dated at 4.4 million years ago. The remains are incomplete but enough is available to suggest it was bipedal and about 4 feet tall. Other fossils were found with the ramidus fossil which would suggest that ramidus was a forest dweller. A new skeleton was recently discovered which is about 45% complete. It is now being studied.

    A new species, Australopithecus anamensis, was named in 1995. It was found in Allia Bay in Kenya. Anamensis lived between 4.2 and 3.9 million years ago. Its body showed advanced bipedal features, but the skull closely resembled the ancient apes.

    Australopithecus afarensis lived between 3.9 and 3.0 million years ago. It retained the apelike face with a sloping forehead, a distinct ridge over the eyes, flat nose and a chinless lower jaw. It had a brain capacity of about 450 cc. It was between 3’6″ and 5′ tall. It was fully bipedal and the thickness of its bones showed that it was quite strong. Its build (ratio of weight to height) was about the same as the modern human but its head and face were proportionately much larger. This larger head with powerful jaws is a feature of all species prior to Homo sapiens sapiens.

    Australopithecus africanus was quite similar to afarensis and lived between three and two million years ago. It was also bipedal, but was slightly larger in body size. Its brain size was also slightly larger, ranging up to 500 cc. The brain was not advanced enough for speech. The molars were a little larger than in afarensis and much larger than modern human. This hominid was a herbivore and ate tough, hard to chew, plants. The shape of the jaw was now like the human.

    Australopithecus aethiopicus lived between 2.6 and 2.3 million years ago. This species is probably an ancestor of the robustus and boisei. This hominid ate a rough and hard to chew diet. He had huge molars and jaws and a large sagittal crest. A sagittal crest is a bony ridge on the skull extending from the forehead to the back of the head. Massive chewing muscles were anchored to this crest. See the opening picture of an early Homo habilis for an example. Brain sizes were still about 500cc, with no indication of speech functions.

    Australopithecus robustus lived between two and 1.5 million years ago. It had a body similar to that of africanus, but a larger and more massive skull and teeth. Its huge face was flat and with no forehead. It had large brow ridges and a sagittal crest. Brain size was up to 525cc with no indication of speech capability.

    Australopithecus boisei lived between 2.1 and 1.1 million years ago. It was quite similar to robustus, but with an even more massive face. It had huge molars, the larger measuring 0.9 inches across. The brain size was about the same as robustus. Some authorities believe that robustus and boisei are variants of the same species.

    Homo habilis was called the handy man because tools were found with his fossil remains. This species existed between 2.4 and 1.5 million years ago. The brain size in earlier fossil specimens was about 500cc but rose to 800cc toward the end of the species life period. The species brain shape shows evidence that some speech had developed. Habilis was about 5′ tall and weighed about 100 pounds. Some scientists believe that habilis is not a separate species and should be carried either as a later Australopithecine or an early Homo erectus. It is possible that early examples are in one species group and later examples in the other.

    Homo erectus lived between 1.8 million and 300,000 years ago. It was a successful species for a million and a half years. Early examples had a 900cc brain size on the average. The brain grew steadily during its reign. Toward the end its brain was almost the same size as modern man, at about 1200cc. The species definitely had speech. Erectus developed tools, weapons and fire and learned to cook his food. He traveled out of Africa into China and Southeast Asia and developed clothing for northern climates. He turned to hunting for his food. Only his head and face differed from modern man. Like habilis, the face had massive jaws with huge molars, no chin, thick brow ridges, and a long low skull. Though proportioned the same, he was sturdier in build and much stronger than the modern human.

    Homo sapiens (archaic) provides the bridge between erectus and Homo sapiens sapiens during the period 200,000 to 500,000 years ago. Many skulls have been found with features intermediate between the two. Brain averaged about 1200cc and speech was indicated. Skulls are more rounded and with smaller features. Molars and brow ridges are smaller. The skeleton shows a stronger build than modern human but was well proportioned.

    Homo sapiens neandertalensis lived in Europe and the Mideast between 150,000 and 35,000 years ago. Neandertals coexisted with H.sapiens (archaic) and early H.sapiens sapiens. It is not known whether he was of the same species and disappeared into the H.sapiens sapiens gene pool or he may have been crowded out of existence (killed off) by the H.sapien sapien. Recent DNA studies have indicated that the neandertal was an entirely different species and did not merge into the H. sapiens sapiens gene pool. Brain sizes averaged larger than modern man at about 1450cc but the head was shaped differently, being longer and lower than modern man. His nose was large and was different from modern man in structure. He was a massive man at about 5’6″ tall with an extremely heavy skeleton that showed attachments for massive muscles. He was far stronger than modern man. His jaw was massive and he had a receding forehead, like erectus.

    Homo sapiens sapiens first appeared about 120,000 years ago. Modern humans have an average brain size of about 1350 cc.

    TOPTOP

    History of Man – an Expansion

    This section is a narrative based on the physical evidence in the introduction above. It is speculative, but it is believed that any reasonable alternative would lead to the same conclusions. The author solicits other opinions.

    Evolution appears to work in bursts of activity. A species may survive for a very long time, even millions of years, with relatively little change, then suddenly, seemingly overnight, a variant species springs from it. Several such cases are evident among the hominid. When populations are large, species drift is very slow, regardless of species. Evolution works best when a small population of a species becomes isolated and faced suddenly with new hazards. The environment provides early and quick death to quickly weed out deleterious mutations and the small population provides a small gene pool across which helpful mutations may quickly spread.

    This is the manner in which the first hominid, the walking ape, appeared. Although no one knows what specifically happened or where, a small pocket of primates were somehow isolated in an area where there were no cats (the main primate predator) and the food supply was short, perhaps even dwindling.

    In warmer and wetter times, huge forests abounded across Africa. Both the ancient primates and felines were widespread. Then the climate changed. Forests dwindled. Patches of forests became isolated, causing animal interchange to become quite difficult. In most such patches, both primate and feline survived. The shortage of food, perhaps growing worse daily, drove some of the primates to the forest floor in search of food. There they became food for the cats. Life was too grim and short for a new ground dwelling primate species to develop.

    But somewhere there was an unusual valley, one completely isolated from all the others, and something there eliminated the cat. Perhaps it was a disease. Perhaps it was a famine of all animal life, with the sole animal survivor being the primate. There must always be a large numerical ratio between food supply and predator. Perhaps it was a small valley, too small to support a large enough cat gene pool for the cat survival, but large enough to support bare primate survival. Or, more likely, the small valley was over-harvested by the cats to the point that only the primates, safe high in the trees, survived, and the cat was starved out of existence. The primate in that valley was then able to spread safely to the forest floor. The walking ape was born. The original primate species still ruled the forest canopy, while this new species, in the absence of felines, was dominant on the forest floor.

    Then the climate changed, reopening the valley for the transit of both primate and feline. The tree-top primate rejoined his fellows and their gene pools blended. The feline was re-introduced to the valley. The bipedal ape on the forest floor was introduced to his new predator. If that introduction had been sudden, the bipedal ape could not have survived. Perhaps there were other valleys in which that actually happened. Luckily, in this one, it was slow, and the walking ape had time to adjust to his new danger. He formed defensive groups and developed defensive strategies.

    That first hominid was Ardipithecus Ramidus. He lived on the forest floor. His close cousin, the primeval ape Ramapithecus, lived overhead. Ramidus had become a herbivore. Ramapithecus was an omnivore. Ramidus had feet on one end. Ramapithecus had hands on both ends. They were about the same size and had about the same intelligence. When the predator came, Ramapithecus escaped into the trees. With four hands he could out climb even the ancient leopard. In spite of the leopard, ramidus had to stay in the forest, being on the open plains was certain death. He was neither fast enough nor strong enough to handle the big plains’ cats. While in the forest, ramidus could at least jump into a tree and escape the big ground cats, but he was still easy prey for the leopard. The death rate, especially among the children, was high. A pregnant woman had no chance at all. Something had to change. Ramidus learned how to cooperate in defense and he learned how to use a club. His culture became more restricted and structured.

    The idea of a club was not new. Modern chimps will use one to beat on the ground in trying to drive off an interloper. The chimp does not need to learn how to use one well because he can always take to the high trees. Chimps will even cooperate in driving off interlopers by jumping up and down and screaming. They do not need to learn how to cooperate in fighting. They can always take to the trees. Ramidus did not have that choice.

    Ramidus now had two things that kept him out of the trees in times of danger: his feet and the club. When the leopard came, he had no chance without the club whether he met the cat on the ground or in the tree. Climbing a tree in a hurry with two feet that cannot grasp anything and a club in one hand while trying to escape from a big cat would be an exciting experience. His women and children had no chance at all without his protection on the ground. Ramidus learned to get shoulder to shoulder with his friends, club at the ready, in front of the women and children, and stand his ground, no matter what the animal was. Now he did not have to live under the trees. He could live anywhere he pleased. They moved out on the plains.

    Meanwhile, ramidus was also having deep trouble trying to make a living. He was a herbivore, the available food was coarse and hard to chew and his chewing apparatus had been designed to fit the needs of an omnivore who ate much fruit. The women, especially, were having real problems in caring for the children while foraging. The life style was brutal, and the death rate was high. Evolution loves a high death rate.

    Evolution had few options. Ramidus could not return to the jungle. He was built wrong. He was structurally too slow to convert to a plain’s predator. Besides, he was primarily a vegetarian and did not have the physical equipment to tear meat off his prey. Birth rate increases would require major physical changes. Only cultural changes were available. The women needed more time to take care of the children and the children would fare better if they did not need to be out on the plains. The males needed to take more of the burden. The tribe needed a safe haven for the women and children, preferably one with some protection from the weather. The old men could stand guard and the young ones could take their clubs with them and forage. Since they were bipedal, they had two arms to haul the food back to camp.

    By the time Australopithecus afarensis appeared, some structural improvements had been made. His head was proportionately larger with a much improved eating apparatus, with molars that were much larger. The size of the canine teeth had diminished (evolution diminishes things not needed). His jaw was heavier and had huge chewing muscles attached. The male was also a little taller and heavier and the female was smaller because of their differing roles. A slight brain size increase provided improved social interaction. With the following Australopithecus africanus, they survived, in balance with nature, for almost two million years. Still, life was short, child mortality high, and hardship was constant. Evolution had honed the species to fit the environment and was now in balance. The people were tough, hard-working and resilient. Man had joined the other plains’ animals in a balance with nature that appeared stable (not fun, but at least survivable). Many other plain’s animals had also reached a stability in their evolution, one that exists to this day. If something had not happened to upset this balance, man would still be there today, mingling with the gnus and wildebeests.

    Several things happened to spur further development. With their stronger culture, they could survive the plains better than the other herd herbivores. Their population grew. Competition was high for food. Other species branched off: Australopithecus aethipicus came first, followed by robustus and boisei. These were bigger and tougher competitors for the same food supply.

    Somewhere along in that last million years of the reign of africanus, someone sharpened a stick, perhaps to use to dig roots, and discovered that a spear was a much more effective weapon for some uses than a club. A club is a good defensive weapon. When a club is used against an animal other than man, it is immediately available for another swing. It is not too good against another man. He will usually grab it on the way in and the advantage is lost. The aim of a club is usually to discourage, not to kill, and it is more effective against an animal than a man. A spear is an offensive weapon. It has only one purpose: to kill. Still, though skill is present in its use, it often sticks in the adversary and is torn from the hands when the adversary twists away. Looking bare-handed into the eye of a tiger with an out-of-reach spear sticking out of his shoulder is not healthy. The tiger gets down right irritated under such circumstances. Smacking him up side the head with a club, on the other hand, leaves the defender still armed. The spear works best in sneak attacks. Stalk and kill is spear territory. A few good men, working as a hunter-killer team, could now hunt and kill any animal on the plains, including other men.

    Life became even more precarious, the favorite working ground for evolution. The greatest dangers that man now faced were other men. When man goes against man, and the weapons are the same, cunning is usually the deciding factor. A spear is a great equalizer in size, so growing bigger was not as effective as a survival move as growing smarter. Unfortunately, becoming more vicious was also effective. The docile hominid cow of the plains became a warrior. His culture was now much more complex, one that needed careful planning and leadership. This required intelligence and language.

    Homo habilis was the transition man. Starting with a 500cc brain, it grew to a respectable 800cc. Habilis developed from a brutish and dim-witted herd animal to a competent man. The Broca’s area in his brain became developed showing the existence of a workable vocabulary. He invented the use of fire for cooking, warmth and keeping wild animals at bay. He invented the stone axe. He also may have eliminated the last of that big tough robustus and boisei bunch. For some reason they disappeared about that time. For sure there was no one else on the plains who could have done them in.

    Then, about 1.8 million years ago, Homo erectus came: mighty warrior, skilled hunter, inventor, far-ranging explorer and king of all he surveyed. The size of a modern human and standing as straight, he developed a 1250cc brain, very close to modern man. Along the way he developed many new tools and weapons, invented clothing, and traveled out of Africa, the first hominid to do so. He went across southeast Asia, into northern China and south to Java. He was now an omnivore who ate mostly meat, both animals and fish. He cooked his food. Evolution had noted the softer food, and degraded his magnificent chewing apparatus. By the end of his reign, his molars and jaw had shrunk to almost that of modern man.

    The culmination of man’s evolution was Homo sapiens (archaic). It has been down hill ever since. He came about 300,000 years ago, straight and tall, muscular, hardened and practical, with almost a full size brain, the result of four million years of evolution. Humankind was now a veteran of millions of deaths and countless hardships, with a population so small that mutations spread rapidly. His gene pool had little variability. Natural selection (death and misery) had kept him pared. Only the strongest, the most cunning, and the most stubborn survived.

    Then came modern man, an anticlimax, about 120,000 years ago. From this point on his inventive mind would devise method after method to ease his lot. He would remove his enemies without compassion. He would learn to enslave other animals and even other men. He would greedily take from the world around him and from those who were weaker. He would make his life easier, and evolution would degrade him

    Komentar oleh ance — Maret 11, 2007 @ 5:46 am

  18. kalau ada tanggapan kirim aja langsung ke***

    Komentar oleh ance — Maret 11, 2007 @ 5:51 am

  19. peristiwa penciptaan adam lebih menunjuk pada awal eksistensi manusia berpikir, berkehendak dan dikenai aturan…

    dalam alQuran diceritakan bahwa Adam melakukan pembangkangan dengan memakan buah yang dilarang oleh Allah… ini menunjukkan bahwa manusia adalah mahluk yang berkehedak… sekaligus dikenai aturan Allah..

    wallahu’alam….

    Komentar oleh iin — April 17, 2007 @ 4:03 pm

  20. kamu yang nanya mending masuk biologi aja deh. tau kan kalo belajr sesuatu di dasari pada rasa ketertarikan yang besar kan hasilnya lebih maks
    kamu kan dapat jawaban2 yan panjang lebar di biologi….gituuuu

    Komentar oleh kamila — April 26, 2007 @ 1:05 am

  21. doktrin itu malah bikin tantangan tersendiri…
    jadi pengen buktiin kebenaran
    belajar dktrin juga belajar ilmu lho…

    doktrin itu g selamanya jelek bukan

    Komentar oleh kamila — April 26, 2007 @ 1:07 am

  22. ouuwwghh..nice job

    saya jg g percaya dgn namanya doktrin

    terlalu bodoh klo cmn percaya doktrin(sama aja anak umur 5th donk)
    qt diciptakan Allah dgn sebuah benda yg sangat berharga yaitu “otak”…
    yg digunakan bwt mikir,bkn cmn nerima statement dgn apa adanya

    saya pny blog ni about
    “apakah adam manusia pertama?”

    smoga bs jd acuan untuk lebih “berpikir”

    http://ruhul-qudus.blogspot.com

    Komentar oleh amrano — Juli 16, 2007 @ 2:08 am

  23. Menurut Quw teoRi daRwin adalah salah kaprah homo sapiens dan homo erectus atw manusia purba lainnya adalah evolusi dr kera purba!dan manusia pada saat itu masih biasa kalah bertahan hidup dibandingkan kera purba_jelas2x manusia makhluK CIPTAAN ALLAH Yg paling sempurna!koq disamain sm monyet!pUNks oppinion

    Komentar oleh DaNY ZAMBROnk — Juni 5, 2008 @ 2:14 am

  24. a very great post by you hope to visit more very soon.

    Komentar oleh wisconsin union theater schedule — Oktober 25, 2010 @ 8:32 am

  25. Maybe you could change the page name Teori Evolusi Red War Think with No Brain to more specific for your webpage you create. I enjoyed the blog post yet.

    Komentar oleh Schedule — Oktober 30, 2010 @ 11:12 am

  26. I think the admin of this site is actually working hard in favor of his website,
    for the reason that here every information is quality based material.

    Komentar oleh tips to help get pregnant — Januari 29, 2013 @ 8:19 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

About author

Aku cm anak manusia yg mencoba mmbebaskan diri dari belenggu DOKTRIN yg ada.... Berpikir penuh LOGIKA tanpa pikiran yg ada (DOKTRIN)

Cari

Navigasi

Kategori:

Links:

Archives:

Feeds

%d blogger menyukai ini: